AMIR "NJIN" DAN WULYO "TIWUL" BERIKAN ARAHAN: GENERASI PENERUS JARANAN MOJOWARNO DIAJARI MEMBUAT HINGGA MEMPERBAIKI KUDA KESENIAN


Detik-pena.my.id
|| JOMBANG — Di sela kesibukan menjaga warisan leluhur, dua sosok pemuda sekaligus pelestari budaya di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, turun langsung membimbing generasi penerus kesenian jaranan. Mereka adalah Amir Ulamin, yang akrab disapa Njin, dan Wulyo, dikenal dengan panggilan Tiwul. Keduanya membekali para pemuda dengan keterampilan berharga: mulai dari cara membuat kerangka, merakit, menghias, hingga memperbaiki kuda kepang jaranan secara mandiri.

MENJAGA WARISAN DARI AKARNYA: BUKU TANGAN DAN KETERAMPILAN TANGAN

Bagi Amir "Njin" dan Wulyo "Tiwul", melestarikan jaranan tidak hanya soal menari atau tampil di panggung — melainkan juga menguasai sepenuhnya dari proses pembuatan. Di tempat kerja yang sederhana namun penuh makna, keduanya duduk bersama para pemuda, memberikan arahan langsung langkah demi langkah.

“Jangan hanya bisa menari. Kalau kuda rusak, harus bisa memperbaiki sendiri. Kalau tidak ada, harus bisa membuat sendiri. Itu baru pelestarian yang sesungguhnya,” ujar Amir “Njin” saat membimbing para pemuda menyusun kerangka kuda kepang.

Para peserta diajari teknik menyusun kerangka agar kuat namun tetap ringan saat dibawa menari, cara menempelkan bahan pelapis dengan rapi, hingga pemilihan warna dan ornamen yang mencerminkan ciri khas jaranan Mojowarno. Tidak hanya itu, mereka juga dibekali keterampilan memperbaiki kerusakan yang umum terjadi — mulai dari kerangka yang longgar, bahan yang terlepas, hingga hiasan yang patah — agar peralatan kesenian tetap terjaga dan dapat digunakan dalam jangka waktu panjang.

Wulyo “Tiwul” menambahkan, keterampilan ini adalah kunci agar jaranan tidak sekadar diwariskan sebagai tontonan, melainkan tetap hidup sebagai budaya yang dikuasai sepenuhnya oleh masyarakat.

“Kalau kita bergantung pada orang lain untuk membuat dan memperbaiki, suatu saat bisa terputus. Anak-anak sekarang harus menguasai semuanya sendiri. Mulai dari tangan sendiri, dari rumah sendiri,” tegas Wulyo “Tiwul”.

GENERASI PENERUS: BELAJAR DENGAN SEMANGAT, MENJAGA DENGAN HATI

Suasana pembelajaran berlangsung hangat dan penuh semangat. Para pemuda yang ikut serta tidak hanya sekadar mendengarkan, tetapi langsung mempraktikkan di bawah bimbingan Njin dan Tiwul. Setiap kesalahan diluruskan dengan sabar, setiap kemajuan disambut dengan apresiasi.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah arus zaman, budaya Jawa khususnya jaranan masih memiliki tempat yang kuat di hati generasi muda. Dengan menguasai keterampilan membuat dan memperbaiki kuda kepang, mereka tidak hanya menjaga benda, melainkan menjaga identitas, kebanggaan, dan jati diri daerahnya.

WARISAN TIDAK BOLEH PUTUS

Amir “Njin” — yang juga dikenal sebagai salah satu penggiat media warga sekaligus pelatih kesenian — berharap kegiatan semacam ini dapat berlangsung secara berkesinambungan. Menurutnya, membekali pemuda dengan keterampilan teknis adalah cara paling kokoh memastikan jaranan tetap lestari turun-temurun.

“Nanti giliran mereka yang akan mengajari anak cucu. Maka hari ini kita tanamkan: cinta budaya dimulai dari apa yang bisa kita buat dengan tangan sendiri,” tutupnya.

Detik-pena.my.id memantau langsung kegiatan ini dan akan terus meliput langkah-langkah pelestarian budaya yang dilakukan oleh para pemuda Mojowarno. Karena budaya tidak diwariskan begitu saja — ia harus dijaga, dipelajari, dan dikerjakan bersama.

Pewarta : Fitria

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama