detik-pena.my.id || JOMBANG, — Di tengah semarak Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), suasana penuh penghormatan dan refleksi terlihat ketika Willie Salim bersama Ustadz Ferry Sulaiman berziarah sekaligus mengenang perjuangan para tokoh besar bangsa dan Nahdlatul Ulama. Salah satu sosok yang menjadi perhatian utama adalah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia, yang makamnya menjadi tempat masyarakat mengenang pemikiran, perjuangan dan keteladanan sang tokoh bangsa.
Ziarah tersebut tidak sekadar menjadi ritual penghormatan kepada sosok yang telah wafat. Lebih jauh, momentum itu menjadi ruang untuk kembali mengingat gagasan besar Gus Dur tentang kemanusiaan, persatuan, demokrasi, toleransi dan keberanian dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan.
Nama Gus Dur hingga kini tetap memiliki tempat kuat dalam ingatan masyarakat Indonesia. Ia dikenal bukan hanya sebagai tokoh Nahdlatul Ulama dan ulama pesantren, tetapi juga sebagai negarawan yang pernah memimpin Indonesia sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kekuasaan, tetapi harus mempunyai keberanian untuk memperjuangkan prinsip dan kepentingan rakyat.
Di kawasan makam Gus Dur, kenangan tentang sosok yang memiliki karakter kuat tersebut kembali terasa. Kesederhanaan, humor, keberanian bersikap serta pemikiran Gus Dur menjadi warisan yang terus dibicarakan lintas generasi.
Bersamaan dengan itu, ziarah juga menjadi kesempatan untuk mengenang Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dua nama besar tersebut berada dalam satu mata rantai sejarah panjang pesantren dan NU. KH. Hasyim Asy’ari meletakkan fondasi perjuangan keulamaan dan organisasi, sementara Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang membawa nilai-nilai tersebut ke ruang kebangsaan dengan cakupan yang sangat luas.
GUS DUR DAN WARISAN PEMIKIRAN UNTUK GENERASI MUDA
Kehadiran Willie Salim dan Ustadz Ferry Sulaiman dalam momentum ziarah tersebut menjadi gambaran bahwa warisan pemikiran Gus Dur tidak hanya menjadi milik generasi pesantren atau kalangan Nahdliyin. Sosok Gus Dur telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan Indonesia.
Bagi generasi muda, Gus Dur memberikan pelajaran penting bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru keberagaman harus dirawat sebagai kekuatan bangsa.
Gus Dur juga mengajarkan bahwa keberanian seorang pemimpin tidak selalu ditunjukkan melalui suara keras. Keberanian dapat hadir dalam bentuk keteguhan mempertahankan prinsip, membela kelompok yang lemah dan membuka ruang dialog ketika masyarakat terjebak dalam perbedaan.
Nilai-nilai itulah yang membuat nama Gus Dur tetap hidup dalam ingatan publik, meskipun beliau telah lama meninggalkan dunia.
Di tengah dinamika Muktamar ke-35 NU, mengenang Gus Dur menjadi semakin relevan. Muktamar bukan hanya forum untuk membicarakan persoalan organisasi, tetapi juga momentum untuk membaca kembali perjalanan panjang NU dan mengambil pelajaran dari para tokoh yang telah memberikan pengabdian besar kepada umat dan bangsa.
DARI MAKAM, MENGENANG JALAN PERJUANGAN
Ziarah memiliki pesan yang sederhana namun mendalam: setiap perjuangan memiliki sejarah dan setiap generasi mempunyai tanggung jawab untuk meneruskannya.
Makam Gus Dur menjadi salah satu ruang penting untuk melakukan refleksi tersebut. Di tempat itu, kebesaran seorang presiden tidak lagi diukur dari jabatan, protokol kenegaraan maupun kekuasaan. Yang tersisa adalah nama, karya, pemikiran dan nilai yang diwariskan kepada masyarakat.
Gus Dur telah menunjukkan bahwa jabatan Presiden hanyalah bagian dari perjalanan hidup. Warisan terbesar seorang pemimpin justru terletak pada keberanian meninggalkan nilai yang terus hidup setelah dirinya tiada.
Karena itu, momentum ziarah Willie Salim dan Ustadz Ferry Sulaiman bukan sekadar perjalanan menuju makam. Ada pesan yang lebih besar: bahwa generasi hari ini perlu mengenal kembali siapa Gus Dur, bagaimana perjuangannya, serta mengapa pemikiran dan keteladanannya tetap relevan bagi Indonesia.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, bangsa ini membutuhkan figur dan nilai yang mampu menjadi jembatan di tengah perbedaan. Gus Dur adalah salah satu tokoh yang sepanjang hidupnya berusaha membangun jembatan tersebut.
Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang pun menjadi momentum untuk kembali meneguhkan pesan itu. Dari jejak Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari hingga warisan pemikiran Gus Dur, NU memiliki sejarah panjang yang tidak hanya berbicara tentang organisasi, tetapi juga tentang pengabdian kepada umat, kemanusiaan dan Indonesia.
Ziarah tersebut akhirnya menjadi simbol bahwa perjuangan para pendahulu tidak boleh berhenti di makam. Nama Gus Dur boleh telah menjadi sejarah, tetapi gagasan tentang kemanusiaan, persatuan, keberanian dan keadilan harus terus hidup dalam tindakan generasi berikutnya.
Gus Dur telah pergi, tetapi pemikirannya tetap menjadi cahaya. Dari makamnya, generasi hari ini diingatkan: menjadi besar bukan karena jabatan, melainkan karena keberanian memperjuangkan kebenaran dan kemanusiaan.
Pewarta : Menik. A
