detik-pena.my.id || JOMBANG – Yenny Wahid menegaskan bahwa ulama-ulama yang terpilih dalam jajaran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) merupakan figur dengan kapasitas keilmuan, kecerdasan, dan kedalaman spiritual yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurut Yenny Wahid, para ulama AHWA bukan hanya memiliki kecerdasan aqli atau kemampuan berpikir secara rasional, melainkan juga dibekali ilmu agama yang mendalam, kebijaksanaan, serta keteladanan dalam menjaga arah perjuangan Nahdlatul Ulama.
Penegasan Yenny Wahid tersebut menjadi sorotan di tengah perhatian besar warga Nahdliyin terhadap peran strategis AHWA dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi. AHWA, kata Yenny Wahid, memiliki tanggung jawab besar karena keputusan yang lahir dari para ulama tersebut bukan sekadar menyangkut persoalan administratif maupun kepentingan kelompok, tetapi menyentuh masa depan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Bagi Yenny Wahid, kualitas ulama yang duduk dalam AHWA harus dilihat secara utuh. Kecerdasan intelektual memang penting, namun tidak cukup apabila tidak disertai kedalaman ilmu, kematangan sikap, keluasan pandangan, serta kemampuan membaca kebutuhan umat dan perkembangan zaman.
“Para ulama yang terpilih tentu merupakan ulama alim dan cerdas. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan aqli, tetapi juga memiliki kedalaman keilmuan dan kebijaksanaan,” menjadi pesan utama yang disampaikan Yenny Wahid dalam memandang keberadaan AHWA.
Putri Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu menilai, tradisi NU sejak awal menempatkan ulama sebagai penjaga nilai, moral, dan arah perjuangan organisasi. Karena itu, keberadaan AHWA harus dipahami sebagai bagian penting dari mekanisme menjaga marwah jam'iyah agar tetap berpijak pada khazanah keilmuan, tradisi pesantren, serta kepentingan besar umat.
Yenny Wahid juga menekankan pentingnya memberikan kepercayaan kepada para ulama yang telah dipilih. Dalam situasi organisasi yang dinamis, keputusan ulama harus ditempatkan sebagai hasil dari pertimbangan matang, bukan sekadar dilihat dari kepentingan politik sesaat.
Pernyataan Yenny Wahid sekaligus menjadi penegasan bahwa AHWA memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan antara kecerdasan rasional dan kebijaksanaan spiritual. Sebab, NU membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya mampu menjawab tantangan zaman, tetapi juga tetap teguh memegang nilai-nilai keulamaan dan tradisi yang diwariskan para pendiri organisasi.
Di tengah dinamika besar yang mengiringi perjalanan NU, Yenny Wahid menempatkan kepercayaan terhadap ulama sebagai fondasi utama. AHWA, menurutnya, harus menjadi ruang bagi lahirnya keputusan-keputusan terbaik yang berpihak pada persatuan, kemaslahatan umat, dan keberlangsungan perjuangan Nahdlatul Ulama.
Dengan menyoroti kualitas para ulama AHWA, Yenny Wahid kembali mengingatkan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada besarnya jumlah warga, tetapi pada kokohnya tradisi keilmuan dan kebijaksanaan para kiai serta ulama yang menjadi penuntun organisasi.
Yenny Wahid pun menegaskan, ulama AHWA adalah figur-figur pilihan yang memiliki ilmu, kecerdasan, dan kebijaksanaan—bukan hanya kuat secara aqli, tetapi juga matang secara spiritual dan kokoh dalam menjaga amanah umat.
Pewarta : Menik.A
