Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU Bahas Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum PBNU, Dua Opsi Bersaing Ketat


Detik-pena.my.id
|| JOMBANG — Suasana Sidang Pleno III Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, berlangsung sangat dinamis dan menegangkan. Saat ini forum sedang membahas pokok terpenting: tata tertib pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode mendatang. Dua mekanisme bersaing menjadi opsi utama yang diperdebatkan ribuan muktamirin dari seluruh Indonesia .

Pimpinan sidang yang diketuai Prof. Dr. Mohammad Nuh, Sekretaris Steering Committee Muktamar ke-35 NU, memaparkan dua usulan mekanisme yang dihasilkan dari pembahasan Komisi Organisasi:

- Opsi Pertama: Pemilihan Ketua Umum secara langsung melalui sistem "satu orang satu suara" oleh seluruh muktamirin yang memiliki hak suara, sebagaimana pola yang berlaku pada muktamar-muktamar sebelumnya .

- Opsi Kedua: Mekanisme baru berupa penjaringan nama calon dari tingkat Cabang dan Wilayah, kemudian diserahkan kepada lembaga Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk menetapkan Ketua Umum bersama Rais Aam terpilih .

Pembahasan berlangsung alot namun tetap berjalan dalam koridor musyawarah mufakat. Interupsi dari peserta bermunculan, ada yang mempertahankan keterbukaan sistem lama, ada pula yang mengusulkan penyempurnaan mekanisme agar lebih akuntabel dan efisien. "Kita utamakan mufakat, namun jika belum ditemukan jalan tengah, sidang telah sepakat untuk melakukan pemungutan suara demi kepastian hukum organisasi," tegas Prof. Mohammad Nuh memandu jalannya sidang .

Tata tertib pemilihan ini menjadi landasan hukum terpenting muktamar. Di dalamnya tercantum syarat pencalonan, tata cara penjaringan, penetapan calon, hingga proses pelantikan. Keputusan yang diambil sore hingga malam ini akan menentukan wajah kepemimpinan NU lima tahun ke depan. Karena itu, setiap pasal diperdebatkan dengan ketat dan penuh tanggung jawab.

Saat ini sidang terus berjalan menuju penetapan akhir. Seluruh mata bangsa tertuju pada forum ini: apakah sistem akan dipertahankan atau diperbarui demi masa depan organisasi. Apa pun keputusannya, semoga lahir dari musyawarah yang sejuk, mengikat dalam persaudaraan, dan melahirkan pimpinan terbaik bagi kemajuan Nahdlatul Ulama.

Pewarta : Jorkfan's

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama