detik-pena.my.id || PASURUAN, – Gemuruh Air Terjun Putuk Truno, Pasuruan, menjadi latar pelaksanaan Ruwatan Agung Nuswantoro yang digelar LSM GMBI. Kegiatan yang sarat dengan nilai budaya dan kebangsaan tersebut dipadukan dengan aksi pengibaran Bendera Merah Putih sepanjang 40 meter, sebagai simbol kecintaan terhadap Tanah Air sekaligus upaya melestarikan nilai-nilai luhur budaya Nusantara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan arak-arakan Bendera Merah Putih yang dilakukan oleh anggota dan simpatisan GMBI. Bendera berukuran panjang tersebut kemudian dikibarkan di kawasan Air Terjun Putuk Truno, menciptakan suasana yang khidmat sekaligus menggugah semangat nasionalisme para peserta dan masyarakat yang hadir.
Usai prosesi pengibaran bendera, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi adat dan ruwatan yang dipimpin oleh tokoh adat. Para peserta mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh khidmat, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur serta doa bersama untuk keselamatan, persatuan, dan keberkahan bagi bangsa Indonesia.
Ketua LSM GMBI menyampaikan bahwa Ruwatan Agung Nuswantoro tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan rasa cinta terhadap Tanah Air.
«“Dengan mengibarkan Merah Putih sepanjang 40 meter di tempat yang memiliki nilai budaya dan kearifan lokal ini, kami ingin menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya Nusantara harus berjalan seiring dengan kecintaan terhadap Indonesia. Menjaga budaya berarti turut menjaga jati diri bangsa. Jaya selalu Indonesiaku!”»
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus LSM GMBI, tokoh masyarakat, tokoh adat, anggota dan simpatisan, serta masyarakat umum. Kehadiran mereka menjadi bagian dari semangat bersama untuk menjaga dan mengenalkan kembali nilai-nilai luhur Nusantara kepada generasi penerus.
Di tengah derasnya aliran Air Terjun Putuk Truno, seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Doa tersebut menjadi simbol harapan agar Indonesia senantiasa diberikan keselamatan, persatuan, kedamaian, serta keberkahan.
Ruwatan Agung Nuswantoro di Putuk Truno pun tidak hanya menjadi sebuah prosesi budaya, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan: merawat tradisi, menjaga persatuan, dan mencintai Indonesia.
(Tarno/Al)

