Gus Bang Hadiri Penutupan Muktamar ke-35 NU: Tekankan Persatuan di Atas Segala Perbedaan


Detik-pena.my.id
|| JOMBANG — Di penghujung gelaran akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, hadir pula tokoh ulama muda yang dihormati luas: KH. Rohmatul Akbar Rifai, akrab disapa Gus Bang. Beliau hadir langsung di tenda utama penutupan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, pada Senin, 31 Agustus 2026, turut menyaksikan puncak bersejarah lima tahunan organisasi terbesar Islam Indonesia tersebut.

Silaturahmi yang Menyejukkan di Tengah Keramaian

Gus Bang tampil sederhana namun berwibawa dengan baju koko putih bersih dan peci hitam. Sesampainya di area utama, beliau tidak langsung duduk, melainkan berkeliling menyapa satu per satu: bersalaman dengan para kiai, menegur hangat panitia yang kelelahan namun tetap tersenyum, menyapa tokoh masyarakat, hingga menyemangati peserta muktamar dari daerah jauh. Sapaan santunnya menjadi penyejuk suasana di tengah hiruk-pikuk acara penutupan. Bagi Gus Bang, silaturahmi bukan sekadar adat — ia adalah lem yang menyatukan rumah besar NU.

Muktamar: Lebih dari Sekadar Pemimpin Baru

Di sela-sela jeda acara, awak media berkesempatan menyapa Gus Bang. Dengan tenang beliau memaknai makna sebenarnya dari muktamar yang baru saja usai:

"Muktamar ini memang melahirkan pimpinan baru, merumuskan aturan baru — itu semua penting. Namun yang jauh lebih penting adalah persaudaraan yang kita rajut di sini. Di ruangan ini kita berbeda pendapat, berbeda asal daerah, berbeda cara pandang — tapi semua satu arah: kemajuan NU. Perbedaan itu bukan keretakan, itu kekayaan. Jangan sampai musyawarah yang tajam kemarin berubah menjadi permusuhan esok hari."

Gus Bang menegaskan bahwa keputusan apa pun yang lahir dari forum ini wajib dijunjung bersama. Musyawarah telah selesai, giliran persatuan dimulai.

"Semoga apa pun yang diputuskan di sini membawa keberkahan — bukan hanya di atas kertas, tapi terasa hingga ke pelosok desa. Bagi warga NU, bagi bangsa, bagi negara."

Semangat yang Tak Boleh Berhenti di Pintu Keluar Tambakberas

Pesan terberat sekaligus paling mendalam dari Gus Bang ditujukan untuk seluruh peserta saat pulang ke daerah masing-masing:

"Muktamar boleh selesai, bus boleh beranjak pulang. Tapi semangat ukhuwah tak boleh ikut turun di rumah masing-masing. Bawa pulang kedamaian ini ke pesantrenmu, ke cabangmu, ke lingkunganmu. Kalau di sini kita bisa bersaudara meski berbeda pendapat, di daerah pun pasti bisa."

Beliau menambahkan, keberhasilan muktamar tidak diukur dari seberapa megah acaranya, melainkan seberapa erat persatuan yang tersisa setelahnya.

Penutup: Ukhuwah Sebagai Kekal Abadi

Acara penutup diakhiri doa bersama yang menyatukan hati ribuan hadirin. Gus Bang berdiri khidmat di barisan tengah, mengamati berlangsungnya prosesi dengan pandangan teduh. Baginya, Muktamar ke-35 NU bukan sekadar babak baru organisasi — ia adalah janji bahwa selama ukhuwah terjaga, NU tak akan pernah runtuh, apa pun yang terjadi.

Selamat jalan para muktamirin. Bawa pulang bukan sekadar dokumen keputusan di tas, tetapi juga persaudaraan yang tak akan putus sampai ke tanah kelahiran masing-masing. Amin Ya Rabbal Alamin.

Pewarta : Fitria

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama